Model
Politik

Ketua Partai Demokrat Nias Barat bersama DPD Sumut Menyaksikan Pidato AHY

×

Ketua Partai Demokrat Nias Barat bersama DPD Sumut Menyaksikan Pidato AHY

Sebarkan artikel ini
Model

IDNMetro.com, Nias Barat – Ketua Dan Segenap Unsur DPC Partai Demokrat Kabupaten Nias Barat bersama-sama di DPD Partai Demokrat Sumut, para pengurus dan kader menyaksikan, menyimak serta memberikan dukungan atas perjuangan perubahan dan perbaikan untuk rakyat, di medan.

Model

Tak jarang, setiap AHY menyampaikan informasi tentang arah pergerakan perubahan dan perbaikan, segenap kader yang menyaksikan sambil mengkonsumsi kacang rebus dan jagung rebus serta putu mayong itu menyatakan SIAP berjuang Bersama Ketum AHY dan Partai Demokrat.

Demokrat Sumut Sambil Santap Jagung Rebus dalam pidatonya, AHY menyampaikan, setelah berkeliling ke sejumlah provinsi di Indonesia, diketahui harga beras dan Sembilan bahan pokok mengalami kenaikan, hal ini dipicu karena angka inflasi melampaui 5 persen. Kendala lainnya, pupuk subsidi yang langka dan harga pupuk yang tinggi. Tak hanya itu, hasil pertanian dipermainkan oleh para tengkulak. Akibatnya pendapatan para petani semakin minim.

“Ini semua dampak dari kenaikan BBM pada tahun lalu, imbasnya ada kenaikan harga Sembako. Seperti yang saya temui Ibu Yanti di Sulawesi Tengah menyampaikan, harga beras 50 Kg saat ini mencapai Rp1 juta. Artinya harga beras per kg Rp20 ribu, ini adalah harga yang melebihi dari harga eceran tertinggi (HET) di pasaran. Masyarakat saat ini menjerit dengan harga beras tersebut. Begitu juga saya mendengar di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Nusa Tenggara, Bali dan Sulawesi para petani mengeluhkan harga pupuk yang mahal, sedangkan pupuk subsidi langka.

Sementara itu, nelayan kesulitan berlayar karena langkanya solar, kesulitan ini dirasakan oleh para nelayan kita di Indonesia bagian Timur,” paparnya.

Dia menambahkan, para pelaku UMKM kesulitan bangkit dari keterpurukan akibat pandemic. Hal ini akibat sulitnya menjangkau bantuan permodalan. Selanjutnya, di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, para guru honorer menangis karena tak kunjung diangkat sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN).

Laporan : Feri Halawa