IDNMetro.com, Washington – Pemerintahan Presiden AS Joe Biden pada hari Rabu (01/05) mendapatkan tekanan terbaru dari koleganya di Partai Demokrat untuk meminta Israel agar tidak melancarkan invasi besar-besaran ke Rafah, kota di mana hampir separuh dari 2,3 juta warga Jalur Gaza yang mengungsi.
Lima puluh tujuh dari 212 anggota Partai Demokrat di Dewan Perwakilan Rakyat menandatangani sebuah surat yang mendesak pemerintah untuk mengambil setiap langkah yang mungkin untuk mencegah pemerintah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dari serangan habis-habisan ke kota di dekat perbatasan Mesir itu.
“Kami mendesak Anda untuk menggunakan hukum dan kebijakan yang ada untuk segera menahan bantuan militer ofensif tertentu kepada pemerintah Israel, termasuk bantuan yang bersumber dari undang-undang yang telah disahkan, untuk mencegah serangan besar-besaran ke Rafah,” demikian isi surat yang dikeluarkan pada hari Rabu itu.
Gedung Putih tidak segera menanggapi permintaan komentar atas surat tersebut, yang digagas oleh Perwakilan Pramila Jayapal dan Madeleine Dean. Dukungan Biden untuk Israel dalam perang melawan Hamas dianggap sebagai pertanggungjawaban politik yang signifikan bagi presiden, terutama di kalangan kaum intelektual muda Partai Demokrat. Hal ini memicu gelombang suara protes yang “tidak berkomitmen” dalam pemilihan pendahuluan Partai Demokrat dan juga mendorong gelombang protes pro-Palestina di berbagai universitas di Amerika.
Hal ini menimbulkan kekhawatiran bagi Partai Demokrat karena Biden terperangkap dalam persaingan ketat dalam pemilihan ulang melawan pendahulunya dari Partai Republik, Donald Trump.
Menteri Luar Negeri Antony Blinken mengatakan pada hari Rabu bahwa ia masih belum melihat rencana serangan Israel yang direncanakan di Rafah yang akan melindungi warga sipil, dan mengulangi bahwa Washington tidak akan mendukung serangan tersebut.
Blinken dan Netanyahu bertemu di Yerusalem sekitar 2,5 jam pada hari Rabu, setelah itu Israel mengulangi bahwa operasi Rafah akan tetap berjalan meskipun ada sikap AS dan peringatan PBB bahwa hal itu akan menyebabkan munculnya “tragedi”.
Amerika Serikat adalah pendukung diplomatik dan pemasok senjata utama Israel. Kunjungan Blinken ke Israel dilakukan sekitar satu bulan setelah Biden mengeluarkan peringatan keras bahwa kebijakan Washington dapat berubah jika Israel gagal mengambil langkah-langkah untuk mengatasi bahaya sipil, penderitaan kemanusiaan, dan keselamatan para petugas kemanusiaan. (Wtg)
Sumber: Reuters

















